Tuesday, 21 January 2014

Antara Malaysia – Singapura, Kami Menyapa Pulau Sentosa

Antara Malaysia – Singapura, Kami Menyapa Pulau Sentosa



Satu pengalaman menikmati perjalanan Malaysia – Singapura di suatu kesempatan. Kembar dampitku turut serta menikmati suasana akhir pekan di sela-sela kejenuhan suamiku dengan rutinitas sehari-hari di Malaysia sebagai student. Singapura adalah negara tetangga Malaysia yang dapat ditempuh melalui jalur darat. Kereta api atau bus menjadi pilihan untuk transportasi darat. Kami memilih menggunakan kereta api meskipun waktu tempuhnya sama dengan bus.

Kereta api berangkat di stesen KL Sentral pukul 11.35 malam. Kami memilih kereta api malam dengan harapan tiba di Singapura di pagi hari. Perjalanan hingga ke Singapura ditempuh kurang lebih 6 jam.  Tiba  di Johor pukul 6 pagi dimana petugas imigrasi Malaysia memeriksa kelengkapan paspor di dalam kereta api sebelum memasuki Singapura. 

Kami tiba di  stasiun kereta api Singapura tepat pukul 07.00 pagi. Stasiun ini berada di Woodlands Train Checkpoint.  Setelah melewati pintu imigrasi Singapura para penumpang yang sebagian besar adalah pelancong akhir pekan bergegas dengan tujuan masing-masing. Pulau Sentosa menjadi tujuan wisata untuk kami kunjungi. Sebetulnya perjalanan bisa dilanjutkan dengan kereta tersebut yang berhenti di stasiun kereta yang sudah tidak jauh dari Sentosa. Tapi mengingat waktu masih cukup pagi, jadi kami memilih naik bus untuk menikmati indahnya kota Singapura.

Di Woodlands Train Checkpoint kami melihat beberapa bus kota dengan beberapa tujuan. Kami mengecek nomor bus di papan informasi untuk bus tujuan Pulau Sentosa. Seorang Ibu warga Singapura tiba-tiba mendekati kami dan Ia dengan senang hati memberikan penjelasan. Kesan ramah warga Singapura yang membalikkan pandangan kami kalau mereka katanya cuek dan tidak peduli. Cerita tentang warga Singapura yang tidak selalu benar. Setelah   mendapatkan kejelasan rute yang harus kami tempuh, kami memutuskan mengambil istirahat sejenak.  Kami berjalan kaki ke sebuah masjid yang tidak jauh dari pusat perbelanjaan Woodlands Train Checkpoint. 

Setelah beristirahat kami melanjutkan perjalanan menuju terminal bus Woodlands dengan menumpang bus 911. Kami melakukan satu kesalahan karena kami terlupa menukar uang recehan. Sementara di atas bus kita harus membayar dengan uang pas. Mereka tidak menyiapkan uang kembalian. Umumnya warga Singapura kelihatannya sudah akrab dengan bus sebagai kendaraan dalam kota. Mereka umumnya mempunyai ‘bus card’. Melihat kami kebingungan di atas bus tiba-tiba seorang Bapak warga Singapura memasukkan beberapa uang koin di kotak uang dekat sopir.  Bapak itu tersenyum dan mempersilahkan kami mengambil tempat duduk. Di Singapura, masih ada yah yang seperti ini. Kurang dari 15 menit, bus yang kami tumpangi tiba di terminasl bus Wooldlands.

Di terminal  inilah kita dapat berganti  bus dengan nomor 963R yang langsung ke pusat wisata Pulau Sentosa. Bus berhenti di depan  pintu masuk  mall Pulau Sentosa, dan kamipun  mengitari wisata Pulau Sentosa. Kebetulan waktu itu ada bazaar yang disertai aktraksi badut, permainan, jajanan yang free (bebas) di depan Universal Studio. Kembar dampitku terlihat girang menikmati atraksi dan jajanan free. Kami mengunjungi beberapa area dan rasanya tidak cukup dengan hanya sehari. Kami pun tak urung mengabadikannya dengan kamera.

Tiba-tiba kembar dampitku hendak buang air, dan kami menemui masalah karena toiletnya tanpa air. Hanya ada tissue di sana, dan kami tentu tidak biasa dengan hanya tissue sebagai pembasuh. Beruntung kami membawa beberapa botol air aqua yang beralih fungsi jadi pembersih. Padahal sebenarnya kita bisa mendapatkan air di wastafel di luar toilet. Tapi repot harus bolak-balik . Untuk menyalin pakaian, khususnya untuk anak-anak  tersedia ruang ganti depan toilet.

Karena waktu menunjukkan pukul 06.00 petang, kami pun bergegas pulang dengan menumpang bus 963R menuju Woodlands Centre RD setelah menikmati pesona Pulau Sentosa. Bus ini tidak langsung ke Woodlands Train Checkpoint, tapi harus ganti bus di Woodlands Centre RD. Kami kebingungan dengan ini, karena itu kami bertanya pada penumpang bus yang duduk di sebelah kami. Seorang Ibu warga Singapura keturunan China yang tak fasih berbahasa melayu itu malah dengan rela ikut turun dari bus dimana seharusnya kami berhenti dan berganti bus. Ia menemani kami menyeberangi jalan hingga pemberhentian bus yang akan menuju stasiun kereta di Woodlands Train Checkpoint. Untuk menghindari naik taksi yang mahal, Ibu warga Singapura itu menyarankan naik bus 856.

Tiba Di Woodlands Train Checkpoint kami  mampir di pusat perbelanjaan untuk makan malam di sebuah restoran halal yang tidak jauh dari masjid. Kami  beristirahat dan shalat di mesjid itu sambil menunggu jam pemberangkatan kereta. Kereta berangkat pukul 11.00 malam  dan kami harus bergegas lebih awal untuk  melewati pemeriksaan imigrasi. Setengah hari mengunjungi Singapura menjadi pengalaman mengesankan yang mendorongku untuk berharap dapat berkunjung di lain kesempatan. @ Andi Himyatul Hidayah

Sunday, 19 January 2014

Di Malaysia, Memotret Perayaan Thaipusam 2014 di Batu Caves


Hari Thaipusam yang tahun ini bertepatan 17 Januari 2014 merupakan bulan ‘Thai’, bulan kesepuluh dalam kalender  Tamil (berlaku  pada bulan Januari atau Februari). Pemerintah Malaysia menetapkan hari Thaipusam sebagai hari libur nasional. Memanfaatkan hari libur kami berkunjung ke Batu Caves untuk melihat secara langsung prosesi perayaan Thaipusam. Selain di kuil Sri Subramaniyar   Batu Caves  Selangor, prosesi perayaan ini  juga diadakan di George Town Pulau Pinang, Ipoh Negeri Perak, Kuching dan Johor seperti banyak diberitakan media di Malaysia. 

Perayaan Thaipusam di Batu Caves Selangor Malaysia terkesan unik karena di tempat inilah terdapat patung Dewa Murugan yang tertinggi di dunia (World’s Tallest Murugan Statue). Walaupun cuaca agak panas terik, penganut agama Hindu di Malaysia menyambut secara meriah dengan berbondong-bondong mendatangi kuil Sri Subramaniyar Batu Caves.

Perayaan Thaipusam di Batu Caves 17 Januari 2014 ini turut dihadiri Perdana Menteri Malaysia Datuk Seri Najib Tun Razak yang datang dilokasi Batu Caves sekitar pukul 10.15 pagi dan disambut oleh Timbalan (wakil) Presiden MIC Datuk Seri S.Subramaniam.

Perayaan yang digelar sejak pagi hari ini turut mendapat perhatian dari masyarakat Malaysia dari berbagai etnik dan para turis mancanegara. Para pengunjung dan turis mancanegara terlihat antusias mengabadikan suasana menarik pada perayaan Thaipusam ini.


Berdasarkan berbagai sumber bahwa bagi ummat Hindu perayaan Thaipusam adalah untuk menghornati hari kelahiran Dewa Murugan yang juga dikenal dengan nama Dewa Subramaniam.  Dewa Murugan adalah anak bungsu  Dewa Shiva dan Dewi Parvati. Sumber lain menyebutkan bahwa perayaan Thaipusam juga untuk memperingati peristiwa dimana Dewa Murugan menerima lembing suci dari ibunya untuk menghapuskan kuasa jahat bernama Soorapadman.

Pada hari Thaipusam, penganut agama Hindu akan membawa patung Dewa Subramaniam, yaitu  di atas pedati perak dan diarak dengan diiringi musik tradisional. Selain itu, antara lain ciri utama perayaan Thaipusam dimana terlihat penganut agama Hindu juga  membawa 'kavadi'. Kavadi adalah sebuah kerangka besi yang dihiasi dengan bunga, kertas berwarna-warni, dan buah-buahan segar yang dijunjung di atas bahu. Ini adalah sebagai tanda membayar nazar atau bertaubat kepada Dewa Subramaniam. Biasanya, pembawa 'kavadi' ini berada dalam keadaan terpukau sambil mengikut rentak lagu yang dimainkan.

Ada juga sebagian  penganut agama Hindu yang menusukkan logam atau besi yang menembus  kulit tubuh, lidah, pipi, dan anggota badan yang lain dengan tujuan membersihkan dosa dan menyucikan diri. Disamping itu sebagian dari mereka terlihat mencukur rambut pada hari tersebut dan menyapukan campuran serbuk cendana dan air di atas kepala. Prosesi ini menurut mereka  merupakan satu bentuk melepaskan atau membayar nazar.

Pemandangan unik perayaan Thaipusam di Batu Caves Selangor Malaysia adalah ketika pembawa 'kavadi' yang berarak dan menaiki 272 anak tangga hingga  di pintu gua dan meletakkannya di hadapan patung dewa. Selain itu, penganut agama Hindu juga membawa kelapa, madu, dan susu untuk dipersembahkan kepada dewa-dewa untuk  mendapatkan restu.

Memotret sisi lain dari kepercayaan masyarakat Hindu yang dianut oleh sebagian etnik India yang berdiam di Malaysia ini dapat menjadi  pembelajaran dalam upaya memahami dan menghargai  perbedaan sebagai sebuah realitas sosial. @ Andi Himyatul Hidayah.

Sunday, 12 January 2014

Puisi : Terima Kasih Pertemuan



Terima Kasih Pertemuan

*
Terima kasih pertemuan
Menapaki hari silih berganti
Berlalu dengan mudah
Tapi kenangan itu
Bersama satukan tangan
Lekat di sanubari
Bina ukhuwah karena Ilahi
*
Dan rasa saling memilikilah
Menjadikan kita keluarga
Dalam ikatan bernama PERISAI
Engkau dan aku,
Engkau dan mereka
Satu hati satu semangat
Tak ‘kan pudar oleh perpisahan
*
Tapi kini
Nyiur menyapa
Terdiam merenung sendu
Terpesona dalam baris cerita
Seperti Engkau berguna dan berjasa
Menabur ilmu menyemai budi
*
Terima kasih pengalaman
Di saat bersama
Mengajarkan ketulusan
Dalam mengasah hati dengan pekerti
Membuatku begitu payah
Mengungkap salam perpisahan
*
Engkau pergi dengan langkah baru
Dan akan bertemu lagi entah kapan
Bungkus pengalaman yang kita kenal
Jadi cerita indah di lain kesempatan
*
Bagimu pengabdian
Ikhlas menabur bakti
Berbunga pribadi berbuah bestari
Adalah buahnya ranum
Di syurga abadi

*
Oleh :  Andi Himyatul Hidayah
Catatan Pertemuan Bersama Prof. Anis Malik Thoha dan Ibu Zum
Kampung batu, 12 januari 2014

diposting ulang dari : Kompasiana